Dulu saya sering berbagi rasa, pikiran dan perkataan dengan sahabat tanpa beban dan penuh ekspresi. Tapi kehidupan baru membuat jarak dan waktu terpisah begitu nyata dengan sahabat. Hanya dengan tulisan saya bisa berbagi rasa, hati, pikiran dan perkataan saya tanpa beban. Tulisanku adalah aku...
Tuesday, 22 December 2015
Empat Puluh (vlog)
Alhamdulillah, I am 40 now!...
Gak ada perasaan special, gak ada acara special...semua berjalan normal.
Tetep merasa umur gue 30an :)
Yang ada gue jadi semakin memikirkan kematian. Jadi keingetan terus kalau waktu gue semakin sebentar.
In sha Allah gue akan menjadi hamba Allah yang sholeh, yang selamat dari siksaan api neraka jahanam.
Monday, 16 November 2015
Pangeranku, nikmat dan ujianku.
Setiap kali terjadi aksi teroris yang mengatas namakan Islam di dunia barat, sang istri selalu saja bertanya dengan pertanyaan yang sama kepadanya.
"Kamu gak takut orang-orang akan melihat kamu dengan pandangan sarkastik?" tanya sang istri dengan lembut.
"Enggak". Dia menjawab sambil merapikan jenggot berwarna coklat tembaganya yang panjang dengan sisir. Dia tampak tampan dengan jenggot panjangnya. Kerutan-kerutan halus semakin menambah karakter diwajahnya. Dimata sang istri, dia terlihat gagah bak pangeran. Mungkin karena dia melihatnya dengan cinta, bisa jadi orang lain yang melihatnya tampak biasa saja :).
Sejak memakai jenggot panjang, banyak orang terkecoh dengan asal usulnya. Banyak yang mengira kalau dia berasal dari Turkey atau negara timur tengah. Dan ketika mereka tahu kalau dia adalah seorang Swiss asli dan mualaf reaksi beragampun diterimanya dengan lapang hati sebagai konsekwensi pilihan hidup. Tidak sedikit yang bertanya dengan tujuan hanya ingin memojokan agama yang dia pilih bukan karena keingin tahuan yang tulus.
"Kamu gak merasa terintimidasi dengan pertanyaan-pertanyaan pasien kamu nanti?".
"Enggak, yang". Kali ini dirapikan pakaiannya. Hmmm..dia memang selalu teliti dalam penampilannya. Bukan untuk mengundang pujian. Tapi semata karena ingin menghargai orang lain yang menjadi pasiennya, menghargai dirinya sendiri dan mengaplikasikan agama pilihannya dalam kehidupannya. Bersih dan rapi.
Sang istri memandang wajahnya dengan pandangan nano nano. Merasa kagum, terharu, bangga tapi juga khawatir. Bukan khawatir akan berubah imannya, tapi khawatir jika dia akan merasa sedih.
Merasa sang istri tak enak hatinya, diapun memegang wajah sang istri dengan lembut sambil dikecup kening dengan kasih sayang. Ditariknya sang istri ke dalam pelukannya sambil mengusap rambut panjangnya.
"Kamu gak perlu khawatir yang, cukuplah Allah menjadi penolong saya dan Allah adalah sebaik-baik pelindung. Seperti doa nabi Ibrahim : Hasbunallah wa ni'mal wakil.
Dilepaskan sang istri dari pelukannya. Sekali lagi dikecupkan kedua pipinya dengan kasih sayang. Lalu didatangi kedua anak kecilnya yang sedang duduk makan pagi sambil membelai dan mencium mereka semua.
Sang istri tetap memandang wajahnya dengan pandangan penuh cinta sambil menjawab Waalaikum salam ketika dia mengucapkan salam sambil melangkah ke arah pintu untuk pergi mencari nafkah.
Subhanallah, walhamdulillah, wala illaha illalah, allahuakbar. Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah...
Sang istri menyadari, bahwa Pangerannya adalah kenikmataan sekaligus ujian hidup terbesarnya.
Wednesday, 4 February 2015
Bersahabat dengan setrikaan
Kalau saya ditanya pekerjaan rumah tangga apa yang paling disukai. Jawabnya adalah : MENYETRIKA!
Ya, ya saya tahu, banyak dari kalian yang langsung protes. Banyak yang langsung gak terima dan gak setuju kalau menyetrika adalah pekerjaan rumah tangga yang menyenangkan. Menyetrika buat banyak orang adalah pekerjaan rumah tangga yang paling membosankan. Tapi ya itu sih untuk kalian. Untuk saya beda lagi.
Kenapa saya suka menyetrika?
1. Si tengah dan si bungsu jarang banget pengen dekat-dekat dengan ibunya kalau lagi menyetrika. Lain cerita kalau ibu lagi masak atau bersih-bersih rumah. Semuanya udah kaya laron liat lampu terang. Ibu pasti dibuntutin dan selalu pengen copy paste semua yang lagi ibu kerjain. Bikin ribet ibu kalau lagi gak punya banyak waktu dan sering bikin ibu akhirnya jadi tegangan tinggi.
Mungkin karena menyetrika kurang menantang untuk mereka, karena ibu cuma sibuk dengan baju-baju dan cuma pegang setrikaan bolak balik sampe belek.
Gak seperti masak dan bersih-bersih rumah yang printil-printilnya banyak banget. Ada air, ada lap, ada ngaduk-ngaduk, ada ngelap-ngelap, ada potong-potong. Pokoknya buat mereka kalau ibu lagi nyetrika gak seru aja.
2. Biasanya si tengah dan si bungsu langsung mendadak akur kalau ibunya lagi menyetrika karena mereka mau gak mau harus main bareng biar lebih seru. Walau sesekali mereka datang minta dipakein syal buat jadi princess atau minta dikepangin rambutnya tapi selebihnya mereka bisa main bareng tanpa ganggu ibu.
3. Kalau ibu udah bisa "bebas" dari gangguan dua bocah ini artinya sama dengan ibu punya "me time". Biasanya ibu pikirannya lebih clear. Biasanya ibu jadi bisa ngobrol banyak sama diri sendiri. Bisa refleksi diri sendiri. Dan mendadak ibu jadi punya banyak ide :)
Lalu ibupun menjadi drama queen dan merasa kalau setrikaan adalah sahabat yang pas di saat "me time" :)
Jadi untuk yang ribet cari ide pengen pergi keluar rumah buat me time, coba deh temenan sama setrikaan seperti saya, gak ribet mesti mikirin mau kemana, gak ngeluarin duit, gak mesti bingung mau pake baju apa dan bisa dilakukan kapan aja...hihihi...
Masih protes juga?...gak apa-apa, protes aja...palingan bentar lagi yang protes bakalan kencan juga sama setrikaan kan?...iyakan? iya dong? iya deh...:p (ngomong-ngomong dapat salam tuh dari cucian seember...)
Challenge your self!
Tiba-tiba aja mood untuk nulis blog jadi lancar jaya beberapa hari ini. Mungkin karena banyaknya excitement yang datang yang bikin saya jadi ingin berbagi perasaan ini.
Sejak setahun yang lalu saya sering ngobrol dengan diri sendiri, kalau tahun ini saya ingin melakukan banyak hal untuk perbaikan diri. Alasannya sih simpel banget. Karena tahun ini saya akan berusia 40 tahun (hiyyyy...momok yang menakutkan buat saya sebetulnya) dan saya ingin "memulai" hidup baru saya dengan lebih baik.
Dan sejak tahun lalu, saya men set up sebuah permainan untuk diri sendiri. The game is challenging my self to do right.
Ide permainan ini datang ketika saya memulai membaca One Day One Juz. Saya menantang diri sendiri untuk mengalahkan rasa ragu dan tidak percaya saya untuk dapat membaca Quran 1 juz dalam satu hari. Dan sayapun menantang diri sendiri untuk lebih konsen mengkonsumsi makanan sehat dengan minum green smoothie selama 30 hari.
Sayapun dikejutkan oleh diri sendiri karena bisa mengalahkan diri sendiri, mengalahkan kemalasan saya, mengalahkan ketidak konsistenan saya dan mengalahkan keragu-raguan saya. Dan alhamdulillah, hasil dari kesungguhan saya memberikan hadiah yang berharga banget. Yaitu semua hal baik yang saya lakukan menjadi bagian hidup saya sekarang.
Sayapun dikejutkan oleh diri sendiri karena bisa mengalahkan diri sendiri, mengalahkan kemalasan saya, mengalahkan ketidak konsistenan saya dan mengalahkan keragu-raguan saya. Dan alhamdulillah, hasil dari kesungguhan saya memberikan hadiah yang berharga banget. Yaitu semua hal baik yang saya lakukan menjadi bagian hidup saya sekarang.
Dan sayapun mulai menyukai permainan "challenge my self to do right" ini.
Dulu waktu masih muda, kalau ikut kompetisi olahraga atau organisasi tujuannya untuk mengalahkan orang lain. Tapi kalau menang rasa bahagianya sebentar banget dan kalau kalah rasa sedihnya lama. Ikut kompetesi karena ingin terlihat lebih hebat dari orang lain, karena ingin mendapat pujian dan dipuja. Bukan karena ingin membuat pembuktian pada diri sendiri. Yaa..mungkin karena jiwa dan pikiran masih sangat muda dan sederhana. Jadi semua keinginanpun maunya yang bisa bikin kita happy secara instant aja.
Sudah hampir 3 minggu saya mulai lagi menantang diri sendiri lagi. Kalau 5 tahun yang lalu saya bisa hampir setiap hari jogging 3 km, sekarang saya menantang diri sendiri untuk jogging 5 km setiap dua hari sekali. Alasannya juga sederhana banget kok. Saya cuma pengen tetap fit di usia saya sekarang. Saya ingin sehat dan saya ingin anak-anak saya punya kultur senang olahraga dan aktif secara fisik.
Kalau dulu winter selalu menjadi alasan saya untuk malas jogging, sekarang justru pada saat winter saya mulai jogging lagi. Dan saya gak nyangka bisa menemukan kenikmatan yang luar biasa jogging pada saat winter. Ketika sejauh mata memandang semuanya berwarna putih bersih kemilau, ketika udara dingin terasa di wajah dan kadang-kadang ditemani oleh turunnya salju, membuat jogging menjadi begitu adventuring. Dan sayapun mulai ketagihan...
Saya memang sengaja mencari rute yang tidak selalu rata. Sayapun masuk keluar hutan dan mencari dataran tinggi untuk melatih stamina saya. Awalnya lumayan kepayahan waktu lari ditanjakan karena gak terbiasa. Tapi setelah beberapa kali jogging, saya bisa mengatur nafas dan speed saya untuk lari ditanjakan.
Yaa, gak muluk-muluk sih saya menantang diri sendiri untuk jogging 5 km setiap dua hari sekali ini. Saya akan lakukan tantangan ini sampai akhir Maret sebelum saya terbang ke Bali nanti dengan harapan kebiasaan ini akan terus berlanjut dan menjadi bagian hidup saya seperti membaca ODOJ dan minum green smoothie :).
Dan sayapun mulai menulis daftar tantangan lainnya yang akan saya lakukan. And one of the list is to be a better mother & wife for my kids & husband. Saya ingin lebih banyak sabar. Dan yang ini tantangannya lebih berat :). Tapi ini penting untuk dicoba.
I am competing with no one, I am competing with my self. Hadiahnya jauh lebih menyenangkan & memuaskan ketika kita bisa mengalahkan diri sendiri.
This is how I make my life exciting and meaningful. How about you?...
Sudah hampir 3 minggu saya mulai lagi menantang diri sendiri lagi. Kalau 5 tahun yang lalu saya bisa hampir setiap hari jogging 3 km, sekarang saya menantang diri sendiri untuk jogging 5 km setiap dua hari sekali. Alasannya juga sederhana banget kok. Saya cuma pengen tetap fit di usia saya sekarang. Saya ingin sehat dan saya ingin anak-anak saya punya kultur senang olahraga dan aktif secara fisik.
Kalau dulu winter selalu menjadi alasan saya untuk malas jogging, sekarang justru pada saat winter saya mulai jogging lagi. Dan saya gak nyangka bisa menemukan kenikmatan yang luar biasa jogging pada saat winter. Ketika sejauh mata memandang semuanya berwarna putih bersih kemilau, ketika udara dingin terasa di wajah dan kadang-kadang ditemani oleh turunnya salju, membuat jogging menjadi begitu adventuring. Dan sayapun mulai ketagihan...
Saya memang sengaja mencari rute yang tidak selalu rata. Sayapun masuk keluar hutan dan mencari dataran tinggi untuk melatih stamina saya. Awalnya lumayan kepayahan waktu lari ditanjakan karena gak terbiasa. Tapi setelah beberapa kali jogging, saya bisa mengatur nafas dan speed saya untuk lari ditanjakan.
Yaa, gak muluk-muluk sih saya menantang diri sendiri untuk jogging 5 km setiap dua hari sekali ini. Saya akan lakukan tantangan ini sampai akhir Maret sebelum saya terbang ke Bali nanti dengan harapan kebiasaan ini akan terus berlanjut dan menjadi bagian hidup saya seperti membaca ODOJ dan minum green smoothie :).
Dan sayapun mulai menulis daftar tantangan lainnya yang akan saya lakukan. And one of the list is to be a better mother & wife for my kids & husband. Saya ingin lebih banyak sabar. Dan yang ini tantangannya lebih berat :). Tapi ini penting untuk dicoba.
I am competing with no one, I am competing with my self. Hadiahnya jauh lebih menyenangkan & memuaskan ketika kita bisa mengalahkan diri sendiri.
This is how I make my life exciting and meaningful. How about you?...
Monday, 2 February 2015
I Wish You Love - Lisa Ono
Setiap dengerin lagu ini, pikiran saya langsung terbang bebas kesemua tempat romantis. Saya bisa mendadak melow dan kembali teringat cerita masa lalu.
Gak lama sih flash back nya, karena lagunya sendiri juga sebentar *nyengir*. Abis gitu harus balik lagi ke dunia nyata gara-gara Lana teriak minta dicebokin abis pupu... *nasib tukang tinja rumahan*
Friday, 30 January 2015
Saya, si mellow moody blogger :)
Setiap orang punya tujuan berbeda-beda ketika menulis blog.
Kalau saya menulis blog lebih seperti menulis diary. Dan entah kenapa biasanya mood menulis itu datang kalau hati sedang mellow atau feeling romantic :)
Cara saya menulis di blog sih gak bagus-bagus banget dibanding para blogger sejati lainnya yang kalau menulis seperti para novelist. Saya hanya mencoba menulis dengan jujur sesuai perasaan saya pada waktu menulis yang seringnya terdengar sederhana banget untuk yang membaca. Tapi yah, itulah saya... si mellow moody blogger yang masih amatiran banget ;)
Kebiasaan senang menulis sudah ada sejak saya SMP. Dulu saya bisa menghabiskan banyak buku diary karena hampir setiap hari saya rajin menulis. Buku diary menjadi teman setia berbagi saya di masa remaja. Banyaknya sih kisah cinta monyet saya dulu. Sering sekali buku diary-nya saya sembunyikan karena takut dibaca oleh orangtua, tapi seringnya sih ketawan aja dimana buku diary-nya disimpan...hihihi...maklum deh ya, akal anak kecil masih sederhana banget sementara orangtua kan pikirannya udah lebih advance jadinya gak bisa diakalin.
Kebiasaan ini berhenti ketika saya akan menikah. Semua buku diary yang saya punya saya tunjukan kepada suami saya (waktu itu adalah suami pertama) untuk dibaca. Lumayan banyak buku diary yang saya punya. Dan pada saat itu seperti menjadi suatu momentum penutup cerita hidup lama saya karena saya membakar semua buku diary-nya.
Kadang-kadang ada perasaan rindu untuk menulis lagi setelah menikah, tapi seringnya terlupakan karena kesibukan bekerja dan menjadi seorang ibu. Dan beberapa tahun yang lalu, blogging belum ada dan sehits sekarang. Saya mulai mengenal blogging sekitar 6 tahun yang lalu, ketika saya pindah ke Switzerland. Rasanya seperti menemukan teman lama ketika saya tahu menulis di blogging seperti menulis diary.
Awalnya saya cukup rajin menulis sampai Malika lahir dan mulai menjadi jarang ketika Malika mulai tumbuh besar. Dan kembali rasa rindu menulis blog datang sesekali. Rasanya ada kenikmatan tersendiri dengan menulis. Saya bisa menuangkan perasaan tanpa harus mengeluarkan energy dengan bersuara. Bisa menghapus dan mengulang kembali ketika tulisannya terdengar aneh atau gak enak ditelinga saya. Menulis seperti tempat penyaluran sisi melankolis saya. Sisi romantisme saya.
Hihihi...saya suka tersenyum sendiri kalau inget perkataan salah satu sahabat saya :"Li, elo tuh tomboy yang romantis"...
Iya, saya dulu tomboy. Waktu remaja dulu, saya suka kesel sendiri kenapa gak ada cowo yang naksir saya. Padahal saya juga pengen taksir-taksiran kaya temen-temen cewek yang lainnya. Rasanya saya gak jelek-jelek amat waktu itu (perasaan aja sihhh..bener apa gak nya cuma Tuhan yang tahu :p). Dan saya juga masih pake rok dan rambut panjang. Artinya, masih keliatan ceweknya lah.
Sampai pada suatu hari ketika jaman Friendster yang ngethitz di awal tahun 2004 (kalau gak salah), beberapa temen cowok jaman sekolah dulu bikin testimony di wall saya yang semuanya bilang takut sama saya karena saya dulu suka Tae Kwon Do!... Oh Em Ji!!!.... oh Tuhan...ehbutetiiiii...bukan berarti kali, gegara suka Tae Kwon Do terus gue jadi gak suka laki!!!....hiyaatttt...deziiinggg!!!
Ah, tapi sudahlah...itu cerita masa lalu. Walau dulu gak jadi kembang di antara kumbang, yang penting sekarang, saya sudah menjadi kembang dari kumbang jantan yang baik hati (cieeee...gusrakkkk...byarrr...masuk got, kegeeran lumpat-lumpat gak liat samping).
Hahhh...*narik nafas panjang*....
Menulis itu bisa bikin dada lapang dan lega. Seperti kalau kita berdoa. Seperti kalau kita sedang monolog. Gak ada yang memotong bicara kita. Kita bisa menuangkan apa saja yang kita rasakan.
Inilah blogging saya. Tulisan saya si mellow moody blooger.
Malam ini, saya menulis karena harus tetep melek terjaga menunggu waktu untuk menjemput anak gadis saya pesta Fasnacht. Rasanya saya cukup terhibur dengan bikin blog malam ini, karena hanya berduaan saja dengan si bungsu. Sementara suami dan si tengah berada di Italy di rumah mertua saya.
Bailah, sepertinya saya harus siap-siap sekarang untuk menjemput si sulung. Selamat malam semuanya. See you in my other stories...
Sunday, 28 December 2014
Monolog
Dia bukan lelaki tertampan yang pernah aku temui.
Tapi dimataku dia adalah lelaki berwajah paling bersih dan bercahaya karena dibasuh air wudhu setiap hari
Dia bukan lelaki yang rapi menaruh barang-barangnya di rumah dan itu sering membuatku marah.
Tapi dia lelaki yang tertib dengan waktu sholatnya yang mampu meredakan emosiku.
Dia bukan lelaki yang sering membelikan aku barang mewah dan berharga.
Tapi dia begitu royal memberikan aku pelukan, usapan dan ciuman hangat setiap saat.
Dia bukan lelaki super canggih dalam teknologi dan gadget untuk membuat aku terpesona.
Tapi dia bisa membuat aku tertawa sampai sakit perut yang bisa mengendurkan setiap urat tegang di tubuhku.
Dia sering lupa menaruh barangnya.
Tapi dia selalu ingat untuk menggandeng tanganku ketika berjalan.
Dia tidak sering mengajakku makan ke restaurant mewah.
Tapi dia sering memasak untuk ku makanan sehat penuh cinta.
Dia sering menceritakan impian & keinginannya yang terkadang terdengar sangat membosankan ditelingaku.
Tapi dia selalu mengikutsertakan aku dalam impian dan keinginannya.
Dia, yang mempunyai tanda sayatan pisau operasi di tubuhnya yang terkadang membuatnya tidak percaya diri.
Tapi dimataku tanda sayatan itu menandakan betapa kuat tubuh dan jiwanya untu bertahan hidup.
Dia...ya dia...lelaki yang usianya 2 tahun 2 bulan lebih muda dariku, yang dulu kupikir hanya seorang anak muda yang suka bermimpi.
Tapi kenyataannya dia bukan hanya sekedar pemimpi.
Dia lelaki yang penuh pembuktian.
Ternyata, "ketidak sempuranaanya" dapat memberikan "kesempuranaan" dalam hidupku...
[selamat ulang tahun perkawinan yang ke 6 tahun suamiku]
Sunday, 7 December 2014
My sweet December
Selalu saja di musim winter perasaan menjadi lebih mudah mellow. Mungkin karena pengaruh suasana di luar yang mendung, dingin dan sepi membuat hatipun terbawa.
Suami pernah bilang kalau autumn dan winter adalah waktu yang pas untuk merekflesikan diri. Seperti hewan dan tumbuhan yang "menarik" dan "mengistirahatkan" diri mereka sendiri untuk persiapan kehidupan baru yang lebih indah di musim spring dan summer. Jadi jangan aneh kalau kitapun menjadi lebih banyak menutup diri di musim ini.
Dan Desember selalu menjadi bulan favorit untuk saya. Bukan hanya karena gue ulangtahun di bulan ini, tapi juga karena semua orang yang gue lihat terlihat antusias karena natal dan liburan segera tiba.
Rumah-rumah, gedung-gedung, jalanan, pertokoan dan perkantoran terlihat lebih terang benderang karena orang-orang memasang ekstra lampu untuk menyambut natal dan tahun baru. Dan entah kenapa, dari kecil gue selalu merasa sangat hidup dan bersemangat ketika melihat banyak lampu berpijar. Gue bisa betah duduk di dalam mobil mengelilingi kota yang penuh dengan pijar cahaya lampu berjam-jam lamanya.
Dulu, Desember selalu menjadi ajang hura-hura tanpa batas. Disko sampai pagi bahkan lanjut ke after party sampai siang adalah jadwal wajib setiap akhir tahun. Kalau mengingat kembali masa itu, saya bersyukur pernah mengalaminya. Bukan karena hal itu membuat saya bangga, tapi karena pengalaman itu bisa membuat saya menghargai kehidupan saya sekarang. Saya gak perlu lagi mencari keriaan di luar untuk merasakan bahagia. Saya jadi mengerti kalau kebahagian sejati adalah di dalam hati.
Entahlah...mungkin untuk orang lain akan menilai perasaan yang saya punya ini terdengar lebay atau sok asik, tapi memang inilah nyatanya.
Padamnya keinginan untuk merayakan ulangtahun dengan ekstra arrangement & tak ada lagi keinginan untuk merayakan pergantian tahun dengan pesta seperti tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada lagi gegap gempita dan keriaan, semuanya dilewati dengan tenang dan hening... and I did not feel miss anything.
Sejak dua tahun yang lalu, bulan Desember terasa lebih spesial untuk saya karena saya bisa mengalahkan keingingan duniawi saya.
Saya bisa berbicara dengan hati nurani saya sendiri dengan jernih, melihat diri saya sendiri dengan cermin yang lebih terang dan mensyukuri nikmat yang saya punya dengan lebih jujur dan rendah hati.
Desember, kamu selalu ada di penghujung akhir sebuah waktu tapi juga selalu menjadi tanda mulainya awal yang baru...
December, you make people wish and you give people hopes...December you will always be my sweet month..
Monday, 22 September 2014
Merindu Bali...
Berada di jalanan di pagi hari, menimati hangatnya matahari dan mencium harum segar tanah basah karena embun selalu membawa ingatanku kembali pada masa sebagai seorang pekerja.
Sekelebatan kenangan masa lalupun bermain-main riang di ingatan. Bibirku tersenyum tanpa kuatur, hatiku mendadak sejuk seperti ada aliran air sungai di dalamnya dan tiba tiba aku merasa rindu...
Motor matic Mio berwarna kuning, jalanan Seminyak yang di kanan kirinya mulai padat oleh villa, ibu-ibu yang membawa persembahan untuk sembahyang, anak-anak kecil yang berangkat sekolah dengan wajah yang masih setengah mengantuk dan suara deburan ombak yang sayup-sayup terdengar dari sepanjang jalan Oberoi.
Kukencangkan sedikit Musik dalam mobil. Lagu yang sama yang sering aku dengarkan ketika aku masih ada di Bali. Dan akupun menjadi semakin rindu Bali. Tidak bisa lagi aku mengingat kenangan burukku di sana. Semua yang kuingat hanya kenangan indah. Mungkin karena aku sekarang sudah bisa berdamai dengan masa lalu.
Ya, aku rindu Bali, aku rindu bisa berada di pantai hanya dalam waktu 5 menit berjalan dari rumah, aku rindu naik motor malam-malam mencari makanan hanya karena mendadak iseng, aku rindu sahabatku disana, aku rindu makan pagi di pinggir pantai...ya aku rindu...hanya rindu...yang aku rasakan sekarang hanya perasaan rindu...bukan kembali hidup di sana.
Tuesday, 25 February 2014
Ketika penolakan berhijabku justru dari suamiku...
Ketika banyak wanita mendapatkan pertentangan dan penolakan ketika mereka berhijab datang dari lingkungan di luar keluarganya, dalam case saya justru mengejutkan karena saya harus dihadapkan pada kenyataan bahwa orang yang sangat berkeberatan saya berhijab adalah suami saya sendiri yang mana sebagai seorang mualaf dia cukup mengerti tentang apa kewajiban seorang wanita muslim dan menjalankan Islamnya dengan cukup baik.
Diawal percakapan kami tentang mengapa dia keberatan saya berhijab adalah karena kekhawatirannya dengan reaksi dari orang-orang sekitar lingkungan di daerah tempat kami tinggal dan juga dampak pada usaha bisnisnya yang juga kebetulan berada di tempat yang sama. Walau pada kenyataan apa yang dia khawatirkan semuanya tidak terbukti. Reaksi awal orang-orang sekitar kami tentu terkejut dengan perubahan luar saya yang mana itu adalah normal dan dengan berjalannya waktu, merekapun terbiasa melihat saya berhijab dan tidak ada yang berubah dengan sikap mereka terhadap saya. Juga dengan bisnisnya, semuanya alhamdulillah berjalan dengan baik tanpa ada perubahan sama sekali.
Sampai pada suatu malam, setelah beberapa minggu saya berhijab, seperti biasa kami selalu mengobrol sebelum tidur dan terjadilah suatu percakapan yang mana pada akhirnya sayapun tahu apa isi hati terdalamnya tentang mengapa dia keberatan saya berhijab. Ketika saya harus mendengarkan dia berbicara dengan suara penuh kekecewaan dan emosi yang tertahan, sayapun tidak dapat menahan air mata saya. Bagi saya, ketika saya menangis, artinya moment itu sangat amat menyentuh hati saya, entah itu karena terharu, sedih, gembira atau tersakiti hatinya. Dan pada saat itu, saya merasakan hati saya tersakiti.
Tapi saya terus tetap mendengarkan dia berbicara tanpa menyela dan membiarkan apa yang ada dihatinya tertumpahkan semua. Saya ingin mengerti kenapa dia tidak mau saya berhijab, kenapa??? Tapi tetap, saya tidak bisa mengerti. Mungkin saya akan mengerti kenapa dia menentang saya berhijab kalau dia tidak seiman dengan saya dan tidak menjalankan islamnya dengan sungguh-sungguh. Tapi inikan?...
Dan sayapun merasa semakin tersudutkan ketika dia mengatakan bahwa ketidak terimaanya melihat saya berhijab adalah karena dia masih ingin melihat saya cantik dengan rambut tergerai, berpakaian tanpa merasa terbatas dan dia tidak bisa membayangkan harus melihat saya tertutup dari atas ke bawah ketika kami harus pergi keluar rumah seumur hidupnya!.. Baginya, keputusan saya berhijab adalah sesuatu yang cukup menakutkan dalam hidupnya.
Dan diapun mulai memberikan statement-statment yang terdengar sangat tidak adil untuk saya pada saat itu. Dimana dia mengatakan bahwa lebih baik saya memperbaiki ketakwaan saya dulu saja sebelum berhijab. Dan pada saat itu saya teringat suatu quote muslim yang mengatakan : wanita yang bertakwa pasti berhijab dan wanita yang berhijab belum tentu bertakwa. Dan pada case saya : "saya ingin berhijab karena saya ingin termasuk dalam golongan wanita yang bertakwa".
Pada dasarnya dia tidak siap dengan perubahan ini, he was not just ready!..
Malam itu terasa sangat panjang untuk saya menunggu datangnya pagi. I felt something awkward between us. Sayapun merasa tidak ingin berbicara dengannya lagi. Hati saya masih terasa sakit. Kenapa niat saya untuk menjadi muslim yang lebih baik harus ditentang hanya karena alasan bodoh itu (sebenarnya buat saya sangat bodoh), kenapa???.. Dan malam itupun jadi semakin terasa panjang saja. Perasaan sedih karena merasa tersakiti dan sedih karena harus melihat dia mempunyai rasa takut yang luar biasa dengan perubahan yang saya lakukan. Sayapun akhirnya melakukan aksi tutup mulut untuk menunjukkan rasa sakit hati saya, karena dengan diam artinya saya sedang dalam keadaan sangat marah.
Untuk beberapa hari, hubungan kami terasa seperti dua orang asing saja. Walau sebenarnya situasi itu terjadi karena sayalah yang lebih banyak menghindar untuk berkomunikasi. Sementara dia sangat begitu berusaha membuat komunikasi kami kembali normal. Tapi rasanya saya masih belum bisa menerima. Pokoknya gak bisa aja!.
Sampai pada suatu hari dimana diapun memaksa saya untuk berbicara karena aksi tutup mulut saya yang sudah mulai lewat kelamaan :p, dan dengan segala daya upaya nya untuk membuat saya bersuara kembali dari kegaguan mendadak saya, akhirnya kamipun bisa berbicara normal kembali walau pada saat itu sayalah yang lebih emosional ketika mengeluarkan semua isi hati saya. Saya ekpresikan betapa tersakiti hati saya ketika harus mendengar penolakannya untuk saya berhijab hanya karena alasan bodoh itu. Sampai terlalu banyaknya isi hati yang dikeluarkan sampai sayapun lupa apa saja yang saya sudah katakan :))).
Penyesalan yang teramat dalam dapat saya rasakan dari permohonan maafnya ketika dia tahu bahwa hati saya begitu tersakiti. Dan yang lebih membuat dia menyesal adalah ketika dia harus menentang sesuatu yang disuka oleh Allah. Yang dia butuhkan adalah waktu untuk menjadi terbiasa melihat saya berhijab dan saya dapat memaafkan dia. Ketika saya melihat betapa tulus dia meminta maaf, sayapun akhirnya dapat mengerti perasaannya. Mengerti ketakutannya akan perubahan yang ada. Mengerti bahwa sebagai manusia biasa, tidak perduli seberapa taat seseorang itu beribadah, kadang-kadang ego sebagai seorang manusia masih sulit untuk dikuasai.
Dan sayapun harus jujur mengakui bahwa sebagai seorang istri, sudah seharusnya sebelum saya berhijab, saya berkomunikasi dan meminta ijin kepada suami terdahulu. Tapi yahhh... (sekali lagi pelajaran dalam hidup : jangan pernah menduga-duga tentang suatu hal..don't assume kalau kata boss saya dulu). Saya pikir suami akan langsung setuju dan senang melihat saya berhijab karena ini adalah salah satu kewajiban wanita muslim, tapi eh ternyata...
Sampai pada suatu hari dimana diapun memaksa saya untuk berbicara karena aksi tutup mulut saya yang sudah mulai lewat kelamaan :p, dan dengan segala daya upaya nya untuk membuat saya bersuara kembali dari kegaguan mendadak saya, akhirnya kamipun bisa berbicara normal kembali walau pada saat itu sayalah yang lebih emosional ketika mengeluarkan semua isi hati saya. Saya ekpresikan betapa tersakiti hati saya ketika harus mendengar penolakannya untuk saya berhijab hanya karena alasan bodoh itu. Sampai terlalu banyaknya isi hati yang dikeluarkan sampai sayapun lupa apa saja yang saya sudah katakan :))).
Penyesalan yang teramat dalam dapat saya rasakan dari permohonan maafnya ketika dia tahu bahwa hati saya begitu tersakiti. Dan yang lebih membuat dia menyesal adalah ketika dia harus menentang sesuatu yang disuka oleh Allah. Yang dia butuhkan adalah waktu untuk menjadi terbiasa melihat saya berhijab dan saya dapat memaafkan dia. Ketika saya melihat betapa tulus dia meminta maaf, sayapun akhirnya dapat mengerti perasaannya. Mengerti ketakutannya akan perubahan yang ada. Mengerti bahwa sebagai manusia biasa, tidak perduli seberapa taat seseorang itu beribadah, kadang-kadang ego sebagai seorang manusia masih sulit untuk dikuasai.
Dan sayapun harus jujur mengakui bahwa sebagai seorang istri, sudah seharusnya sebelum saya berhijab, saya berkomunikasi dan meminta ijin kepada suami terdahulu. Tapi yahhh... (sekali lagi pelajaran dalam hidup : jangan pernah menduga-duga tentang suatu hal..don't assume kalau kata boss saya dulu). Saya pikir suami akan langsung setuju dan senang melihat saya berhijab karena ini adalah salah satu kewajiban wanita muslim, tapi eh ternyata...
Dan pada akhirnya, seperti cerita di dalam novel-novel romantis kacangan yang selalu berakhir manis. Kamipun akhirnya bisa saling mengerti dengan perasaan masing-masing. Sayapun dapat mengerti alasannya (yang tetap bagi saya terdengar bodoh :p) karena sebagai seorang lelaki yang berasal bukan dari keluarga dan negara muslim, dia tidak terbiasa melihat wanita berhijab setiap hari dalam hidupnya. Eventhough according to our religion is a compulsory a woman wears hijab tetap baginya butuh waktu untuk melihat istrinya yang (menurut dia) cantik --- *yang baca boleh langsung kok teriak huuuuu sambil muntah-muntah :)))* harus berpakaian tertutup rapat.
Dan alhamdulillah, tidak lama setelah saya berhijab kami pun mendapatkan rezeki dari Allah yaitu bisa pergi umroh bersama yang mana perjalanan yang spesial ini memberikan banyak sekali pencerahan-pencerahan dalam hidup kami dan salah satunya adalah membuat hati suami saya semakin yakin dan dapat menerima saya berhijab sampai sekarang.
In sha Allah cerita saya ini bisa menjadi sumber inspirasi untuk saudara wanita muslimku untuk terus memakai hijabnya dan yang ingin berhijab jadi semakin yakin dengan keinginannya. Dan bahwasanya setiap niat baik yang diikutin dengan doa pasti akan dikabulkan oleh Allah
Friday, 1 February 2013
Sahabat Romantis
Ahhh...cukup lama saya gak pernah menulis blog. Ada rasa rindu untuk menulis lagi, tapi gak mudah untuk mendapatkan moment menulis yang tenang ditengah hiruk pikuk dan segala macam kerepotan mengurus keluarga. Rindu rasanya... dan hari ini akhirnya dapat juga waktu untuk diri sendiri, walau tempatnya kurang representativ untuk menulis blog, tapi cukup nyamanlah untuk mulai menulis lagi. Sayapun duduk manis di ruang tunggu dokter gigi yang suasananya lumayan cozy...(rasanya udah pengen angkat kaki aja gara-gara sofanya nyaman banget buat selonjoran :p)
Moment-moment sendirian seperti saat ini memang sangat berharga untuk saya. Dimana saya bisa berkhayal & membebaskan fikiran-fikiran yang ada. Dimana saya bisa berbicara dengan diri sendiri atau sekedar mengingat setiap kejadian yang sudah lewat. Menikmati kegalauan hati dengan menuangkannya dalam tulisan.
Dengan selembar kertas dan pulpen merah, sayapun mulai menulis. Rasanya kurang dapat feel nya kalau menulis gak dengerin lagu. Sayapun sengaja memilih untuk mendengarkan lagu dari Glenn Fredly yang jadi soundtrack filmnya Marcella Zalianti, yang lagu aslinya dinyanyiin sama Dewi Lestari. Lagunya keren banget, judulnya aja unik banget : "Malaikat juga tahu". Dan suara Glenn emang gak ada matinya. Selalu bikin orang yang dengerin terkesima dan terbawa. Dan fikiran sayapun mulai bermain bebas...
Dan saat ini fikiran saya tertuju pada seseorang. Kepada seorang sahabat. Sahabat yang sangat romantis untuk saya...
Seperti kilasan-kilasan dalam sebuah film, ingatan sayapun kembali pada saat dimana pertama kali saya mengenal dia. Bagaimana impression pertama saya tentang dia, bagaimana fikiran saya mengenai dirinya dan bagaimana saya menilai dia. Jujur saya katakan, pada saat itu saya berfikir gak mungkin saya berteman dekat dengan dia.
Gayanya yang super "heboh", melenting sana melenting sini kaya cacing kepanasan:), cara dia dandan yang dimata saya cukup blink blink, selalu tampil dengan barang-barang mahal dan segalanya tentang dia yang lain dari pada semua perempuan yang tinggal di Swiss yang saya kenal, kalau diajak ngobrol, obrolannya cuma sebatas baju, sepatu, tas dan lain-lainnya...arggghh, gak banget deh... Untuk saya pada saat itu adalah : "ini cewe bukan tipe yang bisa jadi temen baik gue deh. Cape kayanya kalau temenan sama nih cewe. Obrolannya gak bisa dalem.
Tapi ternyata kenyataan berkata lain. Tiba pada suatu masa dimana saya bisa "menyentuh" dia lebih dalam. Ketika saya harus berbagi cerita bukan pada semua orang. Somehow, sayapun mulai untuk "membuka" hati, pikiran dan perkataan saya padanya. Kalau diibaratkan, seperti orang pacaran deh, chemistry itupun timbul secara alami. Sayapun mulai menjadikan dia sebagai "tong sampah" saya. Dan dia memang benar-benar "tong sampah" yang bagus banget. Semua sampah yang saya buang, tetap tertutup rapat dan tidak berbau keluar. She's really a good secret keeper.
Sayapun mulai mengenal dia lebih dalam lagi. Mulai mengerti tentang dia. Mulai bisa menerima dia. Dan sayapun menyesal karena sempat berfikir bahwa dia gak layak jadi teman dekat saya.
Mungkin banyak yang gak tahu bahwa dibalik sikapnya yang keliatan suka hura-hura dan pecicilan, sebenarnya dia adalah seorang yang sangat reliable. Seorang ibu yang baik buat anak-anaknya. Istri yang cinta mati pada suaminya. Dan seorang teman yang dapat menyimpan rahasia dengan baik. Mungkin karena banyak orang yang gak tahu dia pada sisi itu, yang membuat dia terlihat untuk sebagian orang cukup misterius (sayapun sempet berpikir seperti itu).
Yes, she's kind of a private person. But once you win her heart, you will have all her attention, love and trust. But unfotunately, many people not realize that. Many people judge her as "a silly" person or someone who like playing innocent or ignorant. Infact, she's not. She has a reason to act like that. She just don't want to be involved with any rumors. She can be a really true friend, someone who can really attentive. Someone who can hold you when you need a warm hug, serve you at best when you need to be pampered and say "I love you" sincerelly when you are down. She's totally a romantic friend :) No politic, no game. Gak pernah saya dengar dia bergunjing tentang orang lain. Selalu dia diam ketika mendengar tentang gosip-gosip hangat yang beredar. Gak pernah saya mendengar dia memulai sebuah cerita buruk tentang orang lain. Gak pernah...
Imaginasinya tentang pertemanan sangatlah sederhana. Cuma pengen ngumpul bareng sambil tidur-tiduran terus umpel-umpelan di tempat tidur sambil nonton film aja kok. Gak harus sharing the latest gossip yang beredar untuk bikin suasana hangat ketika bersamanya. Cuma usel-uselan bareng aja...
Karena dia sayapun bisa lebih mengerti arti sebuah perbedaan dalam berteman. Arti dari menjaga perkataan dan perbuatan. I truly grateful to have a friend like her. She's my mirror. And having a friendship with her has inspired me to be a better person. Sayapun tidak perdulikan lagi hal-hal yang dulu bikin saya berfikir negatif tentang dia. Sayapun gak perduli lagi bagaimana dia memakai baju, bagaimana dia memakai make up atau tentang gaya hidup dia. Itu semua gak penting lagi untuk saya. What all matter now is who she is as a person. And she's genuinely a good person. She has a good heart and clear mind which not everybody realize that.
I thank her for being my friend and being there when I need someone to share. I thank her for accepting my helping hands, for letting me to know her better and surrender her trust on me.
-One day we will sit on the top of mountain enjoying our hot chocolate, just you and me alone. We will laugh about what happen today and be grateful because that moment make us stronger and wiser. We will always be there for eachother and treat our priceless friendship with respect and love. And when we see the clouds under our feet as we are on the top of mountain, we will remind our self by saying : "awan di bawah kaki gue, tapi gue masih merasa kecil"... that will remind us not to be an arogant person and realize that life is like a roller coaster...-
Dan lagupun berganti dengan suara Andien menyanyikan lagu Kirana...
-I dedicate this blog to my romantic friend IW-
Tuesday, 24 July 2012
Ketika Cinta Membawamu Kembali
Gak sengaja waktu buka Youtube hari ini saya melihat postingan video Reza Artamevia nyanyi bareng dengan kedua anaknya Aaliyah dan Zahwa menyanyikan lagu lawas Dewa yang judulnya Cintakan Membawamu Kembali. Dan pikiran sayapun terbawa menjadi melankolis seiring mereka menyanyikan lagu itu.
Di bulan yang penuh berkah ini, akhirnya mimpi panjang saya menjadi kenyataan. Akhirnya Maura bisa datang dan tinggal dengan saya selamanya dan akhirnya saya diberi kesempatan untuk merawat dan tinggal bersama dia sampai pada saatnya ketika dia ingin hidup dengan pilihannya sendiri.
Ahhh...alunan suara Reza menyanyikan lagu Cintakan Membawamu Kembali semakin membawa saya ke dalam kenangan dimasa lalu. Ketika saya tidak memahami apa itu rasa keibuan, ketika saya struggling mencari jati diri saya, ketika saya masih memikirkan diri sendiri, ketika saya tidak jujur dengan diri saya sendiri dengan mengatakan bahwa saya sudah melakukan yang terbaik untuk anak saya padahal semuanya kosong dan ketika saya tidak selalu berada di samping bidadari pertama saya. Rasanya gak terbayangkan kalau semuanya bisa berubah menjadi 180 derajat saat ini. Tidak habis habisnya saya mengucapkan syukur karena Tuhan tidak menutup hati saya sampai mati dan memberikan kesempatan pada saya untuk menjadi seorang ibu sebenarnya.
Sesekali pandangan mata saya arahkan ke luar, terlihat semburat warna jingga di langit diantara awan dan gunung-gunung. Masih terasa mimpi Maura ada di sini. Masih terasa dia datang hanya untuk liburan saja. Masih terasa bahwa saya akan berpisah lagi dengan dia. Ahhhh...senyum sayapun mengembang di dalam hati, ketika saya sadar bahwa itu semua bukan mimpi. Semuanya real, nyata!... Dia hidup dengan saya selamanya...
Keberadaan dia di sini mampu memberikan semangat dalam hidup saya, memberikan energy yang gak pernah saya rasakan sebelumnya, hilang sudah rasa gundah dan galau dihati saya. She makes me stronger to face the world. It´s an amazing feeling. I don´t care anymore to people who think negative about me, who talk bad behind my back here, who lied to me... I don´t care. What is all matter now, is only me, my kids and my husband and all people who appreciate my love and attention. The rest I don´t care.
I just hope that God gives me all of this just simply because I deserve it. Just because I have proved Him that I deserved to have a better life, to have a second chance to be a better person and to be surrounded by people who I love and love me. I believe in God, I believe in pray and I believe in love. Dan ketika niat dan ikhtiar dilakukan dengan sempurna maka Cinta akan membawamu kembali.
Thursday, 17 May 2012
Memposting kata-kata bijaksana di status FB = pencitraan diri?...
Aduhhh...ternyata saya kelupaan melakukan unsubscribe satu nama di Facebook saya. Walhasil ketika saya membuka newsfeed yang ada terbacalah up date status dari dia yang isinya "luar biasa bijaksana" karena diambil dari kutipan somewhere :)
I know it's not my business of how people putting things on their status, but since I know this person pretty well, that's really irritating me. Bukannya merasa jika postingannya adalah sesuatu yang inspiratif tapi malah mengundang senyuman sinis karena kita mengenal dia so well. I know it's hard and sounds not fair but that's the reality.
Sebenarnya sangat disayangkan jika kita menulis suatu kata-kata bijaksana tapi tidak disertai dengan perilaku yang positif juga. Sayapun mencari-cari kata-kata yang tepat untuk mengekspresikan "perbuatan" tersebut. Dan hari ini sayapun "berkicau" di Twitter dengan menulis : "Ya elah, msh aja update status dgn kata2 bijak yang gak sesuai dgn kelakuannya. Dr pada cuma nulis doang mending praktek langsung dikehidupan". Dan ternyata kicauan saya direspon oleh seorang teman yang tinggal di Belanda dengan kicauan yang sangat pas. Dia bilang : "maklum, lg usaha pencintraan mbakyu :p.
Dalam hati sayapun tersenyum lebar dan membenarkan kicauan teman saya tersebut. Memang benar adanya, banyak sekali yang melakukan "pencintraan" di Facebook baik disengaja maupun tidak disengaja. Mungkin sayapun pernah melakukannya dengan maksud untuk melakukan "pencintraan diri". Meng copy paste kata-kata bijaksana untuk sekedar mendapat pujian atau komen tapi sebenarnya saya sendiri tidak selalu melakukan hal tersebut.
Ahhh...at the end of the day, it's their rights though to place things in to their Facebook. Sayapun bersyukur masih diberikan "cermin kehidupan sederhana" untuk membuat saya lebih berhati-hati dalam setiap perbuatan dan perkataan.
Monday, 14 May 2012
Good bye winter blues
Ahhh...gak terasa sudah hampir musim panas lagi. Banyak sekali yang sudah terjadi selama 7 bulan kebelakang. Melewati musim dingin dengan kejutan yang menyenangkan karena ternyata saya hamil lagi untuk yang ketiga kalinya. Juga melewati beberapa problema seputaran pertemanan, suami dan anak.
Kalau dulu ada teman yang bilang biasanya kalau sudah masuk musim dingin, banyak orang yang tiba-tiba jadi sensitif dan melow. Awalnya saya gak bisa membayangkan apa maksudnya, tapi setelah menjalani kehidupan di sini cukup lama, baru saya bisa merasakan sendiri. Banyak yang bilang, situasi ini disebut dengan istilah "winter blues". Entah itu memang aslinya ada istilah seperti itu atau hanya buatan dari teman saya aja, I never really know it :).
Sepertinya sayapun mengalami "winter blues" ditahun ini. Ditambah lagi dengan perubahan hormon karena kehamilan pas di musim dingin. Saya yang biasanya bisa "cool" melihat suatu yang kurang menyenangkan berubah menjadi tidak sabaran dan mudah terbawa emosi. Walaupun sebenarnya kehamilan kali ini terasa lebih mudah secara physic dan mental karena saya merasa lebih fit dan depressless. Tapi somehow, emosi saya menjadi labil dan itu membuat saya unhappy. Sampai pada klimaksnya dimana saya harus bersikap cukup keras kepada seorang teman dekat saya karena ketidak sukaan saya dengan behavior nya yang sebenarnya bisa merugikan dirinya sendiri. Di sini saya gak akan bercerita panjang tentang apa yang terjadi antara saya dengan teman saya, tapi secara garis besarnya, no matter what your relationship is, trust, honesty and respect eachother is highly required kalau mau relationshipnya berjalan lama. Dan hal ini cukup mengganggu saya karena saya merasakan kehilangan teman dekat yang saya sayangi tapi pada saat itu saya tidak cukup kuat menahan emosi saya dan memutuskan untuk break dengan perteman tersebut. it's kinda hurtful but worth as a lesson for both of us.
Begitu juga hubungan saya dengan suami dan anak. Di usia perkawinan yang masih terbilang cukup muda, yaitu hampir 4 tahun dan masa pacaran yang cukup singkat yaitu 7 bulan, membuat kita mau gak mau belajar mengenal satu sama lain lebih dalam ketika kita telah menikah. Suasana tentunya berubah ketika menikah dan belum punya anak dengan setelah menikah dan punya anak. Banyak sekali hal-hal yang membuat perubahan dalam pola pikir dan perilak kami. Dan hal ini tidak mudah untuk dijalani. Begitu juga dengan anak. It's not easy to handle a baby when you are pregnant. Apalagi pada kehamilan di semester pertama. Ahhh...it's really not easy. Semua hal ini membuat saya kehilangan mood untuk bersosialisasi, kehilangan semangat dan menjadi malas melakukan hobby saya. Saya benar-benar berubah menjadi "sebuah batu kali" yang keras. Frekwensi bertemu dengan temanpun berkurang dengan drastis dan sayapun menutup jaringan sosial media saya karena saya merasa tidak cukup pintar menghandle emosi saya sendiri ketika melihat Facebook waktu itu.
Dan akhirnya ketika usia kandungan saya memasuki usia 5 bulan, sayapun terbang pulang ke Indonesia dengan tujuan untuk mendapatkan kembali angin segar and pencerahan. Ternyata perjalanan pulang ke Indonesia tanpa suami karena dia harus bekerja dan membawa anak bayi dengan perut besar sangatlah tidak mudah. Sayapun mulai merasakan depressi diperjalanan pulang dan mulai bertegangan tinggi lagi. Karena kami hanya memesan 1 bangku dipesawat, sayapun harus memangku Malika selama dipesawat. Dan tidurpun dia harus saya pangku dengan perut saya yang cukup lumayan besar pada saat itu. Malika yang tingginya sudah lebih dari 75cm tidak bisa lagi tidur di basinet karena sudah gak muat lagi. Walhasil, kami berduapun tidak dapat tidur nyenyak dan saya harus menghadapi Malika yang tiba-tiba berubah menjadi rewel selama perjalanan karena bosan dan capek. Tapi saya mencoba menguatkan diri saya bahwa situasi ini tidaklah terlalu buruk untuk dilewati. Sampai akhirnya saya tiba di Indonesia, saya merasakan suasana yang lebih relax dan saya bisa lebih bernafas dengan lega.
Bertemu dengan keluarga dan sahabat-sahabat lama memberi kebahagiaan lain dalam diri saya. Apalagi ketika saya pergi ke Bali dengan 2 anak saya dan exclusively menghabiskan waktu dengan mereka, rasanya so priceless. Rasanya waktu 4 hari di Bali sangatlah kurang, saya masih ingin tinggal di sana lebih lama lagi... Merasakan angin pantai, juice segar, makanan tradisionalnya dan juga suasana santai di sana. Ahhh, saya ingin kembali lagi ke sana segera...
Pertemuan dengan sahabat-sahabat lama cukup menjadi obat mujarab untuk soul saya. Knowing that they always be there for me and love me as the way I am membuat saya merasa tidak sendirian. Walaupun tidak selalu kami sependapat tapi kami dapat menerima perbedaan pendapat dengan lapang hati. Mungkin karena "some sentimental reasons" dimasa kita kecil dulu yang membuat kita kuat untuk terus bersama.
Kurang lebih 1 bulan saya di Indonesia dirasakan kurang untuk saya. Tapi saya harus kembali segera kalau ingin melahirkan di Swiss. Tapi perasaan mendung dalam diri saya sebelum pulang ke Indonesia sudah tidak saya rasakan lagi. Perasaan saya lebih tenang dan segar setelah liburan kemarin. Dan sayapun "siap" untuk pulang ke Swiss lagi. Tiba di Swiss cuaca ternyata cukup bersahabat pada saya. No more minus degrees, no more snow dan lebih sering sunshine setiap harinya. Alhamdulillah... Dan sayapun lebih bisa membuka diri saya dengan lingkungan sekitar saya, dengan kehidupan sosial saya dan sayapun mengaktivkan lagi jaringan media sosial saya. Sayapun mulai lagi bersemangat mengambil kamera dan membaca hal-hal tentang photography. Ahhhh...rasanya ruang nafas saya kembali menjadi luas.
Mungkin memang benar, ketika kita berada pada suatu keadaan yang tidak menyenangkan, time to time we have to move from that situation by going somewhere else. Bukan untuk melarikan diri dari masalah, tapi untuk menenangkan dan introspeksi diri sendiri. Karena pandangan kita akan menjadi luas ketika kita berada diluar dari "kotak" permasalah yang ada daripada ketika ketika berada di dalam kotak tersebut. Bertemu dengan orang-orang yang berbeda dan situasi yang berbeda bisa memberikan pencerahan dalam diri sendiri. And of course, don't forget to pray.
Dan alhamdulillah, I feel happier& stronger than before now and ready to have my life in Swiss again. I just can't wait to welcoming summer, the baby, my Maura and to see my friends here again!
Monday, 31 October 2011
Renungan di Muri Moos..
Huggghhh...udara saat ini terasa dingin sekali dan kabut di luarpun terlihat begitu tebalnya. Seperti "normalnya Lia", I am not a big fan of Monday. Gue lebih memilih untuk tidak mengerjakan pekerjaan di hari Senin karena rasanya "soul" gue masih belum berkumpul semua setelah weekend kemarin. Dan biasanya untuk mengatisipasi urusan domestic supaya tidak terbengkalai, gue coba untuk menyelesaikan urusan laundry, setrikaan dan bersih-bersih rumah pada hari Minggu sore.
Dan walhasil, gue sekarang bisa duduk santai di depan PC sambil menunggu Malika yang masih tertidur di kamarnya. Nah, kalau suasana rumah tenang seperti sekarang ini, inilah waktu yang tepat untuk memulai menulis blog lagi.
Sudah semenjak minggu lalu Pascal mengajak kami untuk mengunjungi perternakan yang tempatnya cukup dekat dengan Auw dimana kami tinggal. Pascal mendapatkan informasi dari pasiennya kalau tempat tersebut bagus sekali dikunjungi untuk keluarga karena orantua bisa mengajak anak melihat bagaimana sebuah perternakan hewan seperti kelinci, sapi, babi dan juga sayur-sayuran yang ditanam secara organik. Anak-anak kecil juga diperkenalkan dengan lingkungan alami dan mengerti tentang arti makanan organik. Dan selain itu, kita juga bisa berbelanja makanan-makanan organik langsung dari peternakan itu sendiri.
Dan sebeneranya yang menjadi tempat itu menjadi "special" adalah dimana orang-orang yang bekerja di perternakan itu adalah orang-orang yang dulunya seorang alkoholik atau pemakai obat-obatan terlarang. Ketika kami memasuki area Muri Moos (nama perternakan dan perkebunan tersebut), kami langsung menuju ke cafetaria untuk makan siang. Suasana terasa begitu tenang, dan kami melihat beberapa keluarga yang juga mempunyai niat sama seperti kami.
Ketika mata gue mengarah kepada beberapa orang yang terlihat "lain" secara physic dan gerakan tubuhnya, Pascalpun segera menjelaskan kepada gue siapakah mereka. Ya, mereka adalah orang-orang yang dulunya hidup sebagai seorang alkoholik atau pemakan obat-obatan. Kebayakan dari mereka adalah orang-orang yang sudah tidak mempunyai keluarga atau yang tidak diperdulikan lagi oleh keluarganya. Their life was in the very deep shit and always drinking alcohol or using drug for weeks until they could not move anymore. And then their neighbor realized that they had been in the room for weeks that made them called the social affair division to check them out and brought them to this place. Muri Moos tidak hanya mempekerjakan mereka di sana tapi juga memberikan rehabilitasi pada mereka, what a perfect method for people like that.
Pikiran guepun langsung melayang dengan keadaan di Indonesia yang completely berbeda. Dimana para pemakai obat-obatan terlarang atau peminum dikategorikan sebagai seorang kriminal yang tempatnya di penjara dan bukan direhabilitasi. Kembali lagi ingatan gue melayang dengan berita-berita tentang artis-artis yang tersangkut kasus narkoba dan mereka harus mendekam dalam penjara untuk beberapa waktu. Walau seruan dari mereka dan juga orang-orang yang perduli dengan mereka meminta supaya mereka lebih baik di rehab daripada di penjara tapi sepertinya seruan tersebut tak bersambut dengan positiv.
Dan memang pada kenyataannya penjara bukanlah tempat yang tepat untuk para pemakai narkoba atau alkoholik karena tidak sedikit dari mereka yang kembali lagi ke dunia tersebut....hugghhhh...(menarik nafas panjang).
Kembali lagi pada situasi di Muri Moos, kami bukan saja melihat orang-orang yang tinggal di sana tapi juga peternakan dan perkebunan yang mereka kerjakan. Lingkungan yang tenang dan asri membuat suasana menjadi terasa tentram. Luas area yang sangat besar menjadi jaminan bahwa hewan-hewan ternak yang hidup di sana benar-benar merasakan alam dengan bebasnya. Dan hal ini menjadi salah satu point wajib jika kita ingin mengclaim bahwa ternak kita adalah ternak bio atau organik. Karena dengan membiarkan hewan potong hidup dengan bebas dan leluasa membuat mereka menjadi hewan yang bahagia dan sehat yang mana mempengaruhi kwalitas daging pada akhirnya (hmmm...sounds funny but that's the fact...compared with animals that live in the small and always inside the cage, that makes animals get stress and cause the quality of meat not as good as bio product).
Kandang-kandang hewan terlihat begitu rapi dan besar yang memberikan kebebasan pada hewan untuk bergerak.
Malikapun terlihat menikmati suasana di Muri Moos, sesekali kami biarkan dia jalan sendiri tanpa kereta dorongnya dan membiarkan dia berjalan kesana kemari walau sering sekali membuat kami kerepotan karena harus mengejar dia karena arah yang dia tuju sering sekali ngaco :)))).
Kamipun terus mengelilingi Muri Moos dan menikmati udara cerah di musim autumn ini. Sesekali gue mengambil beberapa photo dari suasana yang ada dan menikmati keberadaan Pascal dan Malika disamping gue. Sesekali kami berhenti berjalan hanya sekedar untuk berpelukan dan mendaratkan ciuman hangat sambil mengatakan how much we love each other and be grateful for the life we have now. Dan ide untuk segera memberikan adik untuk Malikapun semakin besar :)))
Ah, seandainya Indonesia mempunyai tempat seperti ini dimana bisa menampung orang-orang yang struggling akibat alkohol dan obat-obatan terlarang dengan cuma-cuma. Seandainya uang pajak digunakan untuk pembangunan tempat-tempat seperti ini, memberikan kesempatan pada orang-orang terbuang untuk melakukan sesuatu yang berguna dan semua orangtua di sana mulai mengajarkan anak-anak untuk mencintai alam sedari dini bukan mall dan supermarket. Dan mengajarkan anak untuk menghargai sesama manusia tanpa terkecuali. (ahh...semoga gue bisa menjadi orangtua yang lebih baik bagi anak-anak gue di masa datang)
Thursday, 22 September 2011
Blast from the past
Ahhh...it's been 2 days since I arrived back again in this cheese country but my mind is still keep flying away to the other world where people called it as "banana country" :). Isi kepala saya masih saja sibuk dengan traffic memori-memori tentang kejadian reunian kemarin plus bercampur dengan kenangan-kenangan di masa kecil dulu.
Sambil melihat kabut tebal di luar lewat jendela kamar memori-memori masa lalupun kembali datang dipikiran gue.
Sambil melihat kabut tebal di luar lewat jendela kamar memori-memori masa lalupun kembali datang dipikiran gue.
Lebaran tahun ini benar-benar membawa berkah buat gue. Bukan dalam bentuk materi yang gue dapat tapi lebih pada sesuatu yang gak bisa ditakar dengan uang. Acara pulang kampung dalam rangka lebaran memberikan bonus manis dalam trip saya ke Indonesia kali ini. Bonus yang gak bisa gue dapetin setiap tahunnya, yaitu "reunion dengan teman-teman lama".
Ketika gue tahu punya kesempatan pulang ke Indonesia untuk berlebaran, kesempatan ini tidak gue lewatkan untuk mencoba reconnected dengan teman-teman SD dan SMP. Bukan karena gue mau pulang saja, tapi karena momentnya yang pas banget untuk bertemu mereka semua. Puasa dan lebaran adalah moment yang paling tepat untuk membuat event pertemuan. And I have to thanks to Facebook yang menjadikan jarak dan waktu menjadi tak berarti untuk menyampaikan pesan-pesan singkat. Mimpi-mimpi lama untuk bisa bertemu dan bertukar cerita dengan teman lama akhirnya menjadi kenyataan ketika niatan untuk bertemu bersambut tangan dengan manisnya. Teman-teman di seberang dunia sana segera bergerak cepat demi menjadikan mimpi-mimpi untuk bertemu lagi menjadi kenyataan (and not to forget to say billion thanks to all of you who have made this event happened successfully).
Bikin reuni SMP atau SMA pastinya bukan sesuatu yang aneh lagi sekarang ini, tapi bikin reuni SD?... setiap orang yang tahu tentang ini pasti berkomentar : reunian SD???... gak salah lo???... emangnya masih pada inget apa?... weittsss. buat gue, of courselah inget!... Especially buat anak kecil seperti gue dulu yang dikategori "bukan anak manis yang suka duduk kalem di dalam kelas" sudah pasti banyak sekali memori-memori special yang melekat manis diingatan gue.
Kembali lagi memori-memori di masa lalu ketika gue menjadi komandan upacara bendera berdiri di tengah lapangan dalam posisi istirahat di tempat. Dan tanpa tahu sebab kenapa tiba-tiba gue merasa pusing, mata berkunang-kunang dan penciuman menjadi terasa aneh yang berlanjut dengan jatuh pingsannya gue dengan sukses dengan posisi lurus ke depan di mana dagu saya mendarat jatuh dengan kerasnya dan kacamata minus guepun terpental jauhnya sementara kedua tangan gue masih dalam posisi istirahat di tempat :).... ahhh, masa sih komandan upacaranya pingsan...gak banget dweh...:)))
Dan bukan hanya teman dekat saja yang melekat dimemori, tapi juga "musuh-musuh" jaman dulu yang masih teringat jelas. Cowok-cowok hitam kecil yang selalu bergaya tengil, dengan wajah "sok asik" itu tidak jarang mengekspresikan kejailan mereka dengan kejam ke gue. Pernah suatu saat gue harus pulang dengan rok yang ditempelin permen karet dan nodanya gak bisa hilang sampai-sampai orang mengira gue "bocor" karena menstruasi....ahhhh... those little bastards :).
Hmmmm...gue liat jam di komputer menunjukkan 08.53 am waktu Switzerland, harusnya gue udah mulai ngerjain urusan rumah gue, nyetrika, nyuci baju, bersih-bersih rumah, unpacking baju-baju kemarin & siap-siap ke supermarket buat belanja makanan tapi rasanya gue masih males banget ngelakuinnya. Masih saja pikiran gue kembali ke acara reunian gue di Jakarta kemarin.
Gue lebih memilih untuk membalas messages via inbox dari teman-teman lama gue dan menjawab threads kocak dan konyol dari foto-foto yang sudah di upload di facebook. Rasanya gue gak mau keilangan moment to be fun with them. Sambil ditemani secangkir teh hijau hangat dan Malika yang asyik bermain boneka di sebelah gue dan lagu dari Raisa, gue melayangkan lagi pikiran gue ke saat reunian dan masa kecil gue dulu.
Hmmmm...gue liat jam di komputer menunjukkan 08.53 am waktu Switzerland, harusnya gue udah mulai ngerjain urusan rumah gue, nyetrika, nyuci baju, bersih-bersih rumah, unpacking baju-baju kemarin & siap-siap ke supermarket buat belanja makanan tapi rasanya gue masih males banget ngelakuinnya. Masih saja pikiran gue kembali ke acara reunian gue di Jakarta kemarin.
Gue lebih memilih untuk membalas messages via inbox dari teman-teman lama gue dan menjawab threads kocak dan konyol dari foto-foto yang sudah di upload di facebook. Rasanya gue gak mau keilangan moment to be fun with them. Sambil ditemani secangkir teh hijau hangat dan Malika yang asyik bermain boneka di sebelah gue dan lagu dari Raisa, gue melayangkan lagi pikiran gue ke saat reunian dan masa kecil gue dulu.
People changed and the only constant thing in the world is changed. Ya, itu benar banget. Gak cuma melihat kenyataan di sekitar tapi karena gue juga mengalaminya dalam kehidupan pribadi. Dan "kata-kata mutiara" ini semakin bertambah besar maknanya ketika gue bertemu lagi dengan teman-teman lama.
Gak hanya secara fisik gue bisa melihat perubahan teman-teman lama gue (especially the boys, they really became "grow" with their belly and bold hair really make me laugh out loud :)). Tapi juga perubahan sikap mereka yang dulunya terkenal rascal menjadi so sweet & soft dan yang dulunya so calm has turned to a Don Juan de Marco :). Cewek-cewek yang dulunya terlihat so simply and calm, now turned to sexy and rame ladies. Ahhhh...how life changed us dramatically.
I open again all the pictures from last time and they still give me good smile in my heart. Bagaimana sebuah kebetulan yang "manis" banget ketika 2 orang teman lama tanpa sengaja memakai baju yang sama dengan fisik yang bisa dianologikan seperti Arnold S dan Danny De Vito di film Twins :). Dan juga foto gue dengan seragam SMP yang terlihat konyol...ahhh, what a great moment for me tho. Dan foto-foto dari beberapa guru yang masih terlihat sama seperti 20 tahun yang lalu. Dan jepretan-jepretan candid yang menggambarkan suasana bahagia dari semuanya, pelukan-pelukan hangat dan penuh rasa rindu tergambar jelas lewat foto-foto yang ada. Sungguh membuat hati gue menjadi fresh lagi karenanya.
Okay, I think I must go back to reality again. Back to my real life as a purely house wife as my job has been waiting since last 2 days to be done. Gue harus lari ke supermarket buat makan siang dan nyuci baju kerja suami gue dan bersihin rumah gue yang udah keliatan seperti kapal pecah :).
But I will be back to sit here soon again and open all the pictures to bring back my sweet memories and try not to look outside over the window as the misty appears so thick that makes me mellow.
I open again all the pictures from last time and they still give me good smile in my heart. Bagaimana sebuah kebetulan yang "manis" banget ketika 2 orang teman lama tanpa sengaja memakai baju yang sama dengan fisik yang bisa dianologikan seperti Arnold S dan Danny De Vito di film Twins :). Dan juga foto gue dengan seragam SMP yang terlihat konyol...ahhh, what a great moment for me tho. Dan foto-foto dari beberapa guru yang masih terlihat sama seperti 20 tahun yang lalu. Dan jepretan-jepretan candid yang menggambarkan suasana bahagia dari semuanya, pelukan-pelukan hangat dan penuh rasa rindu tergambar jelas lewat foto-foto yang ada. Sungguh membuat hati gue menjadi fresh lagi karenanya.
Okay, I think I must go back to reality again. Back to my real life as a purely house wife as my job has been waiting since last 2 days to be done. Gue harus lari ke supermarket buat makan siang dan nyuci baju kerja suami gue dan bersihin rumah gue yang udah keliatan seperti kapal pecah :).
But I will be back to sit here soon again and open all the pictures to bring back my sweet memories and try not to look outside over the window as the misty appears so thick that makes me mellow.
Monday, 25 July 2011
When I disagree with you does not mean I hate you...
Seringsekali kita mempunyai perasaan "terkecewakan" ketika ide atau pendapat kita disanggah oleh orang lain. Apalagi ketika opini kita ditanggapi bertentangan oleh teman atau sahabat kita. Adapun sebaliknya, seringkali kita berseberangan opini dengan teman kita dengan berbagai reaksi yang diterima. Ada yang tetap ngotot dengan pendapatnya, ada yang mencoba meralatnya atau hanya mengatakan "iya sih..." tapi sebenarnya tidak seratus persen setuju.
Semakin berumur, semakin kuat karakter kita terbentuk dan semakin sulit untuk dirubah (kecuali dengan keinginan dari dalam diri sendiri). There are some people who just can not simply handle the difference of opinions. Ketika ide atau opini di sanggah dan "dimentahkan" orang lain dalam suatu hard conversation, mereka bisa dengan cepat menganggap bahwa sanggahan atau ide yang berseberangan adalah suatu "serangan" atau bentuk sentimen pribadi. Dan perasaan "insecure" pun akhirnya muncul dan membuat mereka menjadi bersikap defensive yang mana akhirnya menutup hati mereka untuk bersikap lembut dan berpikiran positive.
Mungkin teori saya tidak sepenuhnya benar, tapi itulah yang bisa saya gambarkan dalam sketsa sederhana yang pernah saya alami. Dan saya harus berbicara jujur di sini bahwa hal inipun pernah terjadi dalam kehidupan pribadi saya. Ketika saya sangat tidak menyukai suatu hal atau kecewa akan kondisi tertentu, tentunya saya berharap bahwa orang yang saya ajak bicara akan mengerti dan berpihak pada saya. Tapi ketika respon yang saya terima tidak seperti yang saya harapkan karena opini mereka berseberangan dengan saya maka sikap sayapun bisa dengan cepat berubah terhadap mereka. Saya merasa mereka tidak berpihak terhadap saya, tidak mengerti saya dan mencoba membuat saya down dan yang lebih parahnya, saya merasa bahwa mereka sebenarnya membenci saya. Dan akhirnya perasaan-perasaan seperti itu membuat saya menutup hati saya kepada mereka dan menciptakan sentimen pribadi yang akhirnya membuat hubungan kami dingin seperti es.
Atau ketika saya harus berseberangan pendapat dengan suami dan mencoba bertahan dengan pendapat masing-masing (padahal suami saya selalu berbicara dengan tone suara yang sangat halus dan sopan), saya merasa begitu down dan merasa bahwa dia tidak cukup mengerti saya & menganggap bahwa saya tidak cukup capable in handling something, padahal tujuan dan jalan fikiran dia tidak seperti itu.
Atau ketika saya harus berseberangan pendapat dengan suami dan mencoba bertahan dengan pendapat masing-masing (padahal suami saya selalu berbicara dengan tone suara yang sangat halus dan sopan), saya merasa begitu down dan merasa bahwa dia tidak cukup mengerti saya & menganggap bahwa saya tidak cukup capable in handling something, padahal tujuan dan jalan fikiran dia tidak seperti itu.
Jika saja saya bisa cukup dewasa menerima suatu perbedaan pendapat dengan fikiran yang lebih positif, pastinya hal di atas tidak mungkin terjadi. Bisa saja teman saya ingin memberikan suatu gambaran dari sisi yang lain yang tidak saya lihat karena tertutup awan tebal emosi hati. Or if the difference happened just without of any reasons, it's still fine actually... it is something normal happened just because we are a stand alone individual.
Sayapun mengalami proses lumayan panjang dalam belajar menerima perbedaan pendapat. Dan belajar menerima bahwa sanggahan atau pandangan yang berseberangan bukanlah suatu bentuk dari tanda ketidaksukaan pada diri kita. Saya mencoba untuk menanamkan akar kuat dibagian belakang kepala saya bahwa ketika seorang tidak menyukai ide saya atau melontarkan pendapat yang berseberangan, itu bukan karena mereka membenci kita secara pribadi tapi itu semua tak lebih karena mereka mempunyai kacamata yang berbeda dengan kita dan itu tidak haram terjadi:)
Wednesday, 13 July 2011
Don´t jugde women (dibaca : yang punya anak & suami) who wants to go night out & spend the night only with girl friends!
Ketika awal pindah ke Swiss saya tidak pernah berfikir kalau saya bisa keluar rumah malam-malam ngumpul dengan teman sekedar makan malam bareng dan lanjut ke bar sekedar ngobrol atau mendengarkan musik dan sedikit dancing. Kenapa saya mempunyai fikiran seperti itu?... ya simple aja, karena di dalam otak idealisme saya, seorang istri itu ya sudah tidak berhak keluar malam-malam sampai pagi tanpa suami lagi. Apalagi dengan keadaan saya yang menikah untuk kedua kalinya membuat saya berfikir untuk mengaplikasikan "kodrat" saya sebagai istri konvesional yang kalau ingin keluar malam hanya dengan suami saja.
Ternyata pemikiran saya tidak sepenuhnya benar. Hidup di sini justru tidak sekaku yang saya pikirkan sebelumnya. Kami, para ibu-ibu masih bisa pergi keluar rumah malam dengan teman-teman bahkan menginap sampai pagi tanpa takut mempunyai pandangan negatif dari tetangga atau suami.
Awalnya saya berpikir jika respon yang akan saya terima dari Pascal ketika saya bilang ingin keluar malam atau menginap hanya dengan teman-teman wanita saja adalah penolakan. Tapi ternyata salah lho!... Dengan santai dia bilang "it´s okay yang, you can go. I can understand that you also need to go out only with your girl friends". Dan ijin seperti ini berlaku gak cuma sebelum Malika lahir loh, setelah ada Malika dan ketika dia sudah bisa minum susu formula, saya juga masih diijinkan keluar malam hanya dengan teman-teman wanita saja bahkan menginap tanpa membawa Malika. It´s cool, isn´t?...
Contohnya kalau kita perginya sampai malam banget dan jarak tempat kita pergi jauh dari rumah, jadi lebih baik saya nginep di rumah teman dan besok paginya baru pulang. Atau, kalau saya harus bantu teman masak karena besoknya ada acara pengajian bersama yang tenaga saya dibutuhkan, so untuk Pascal it´s not a big drama. Beside that, occasion seperti ini sangat jarang sekali.
Once I tried to go to club with friends and I found my self that I felt so misplace. I guess going to club is not my thing anymore. First : I don´t follow the music anymore :), second : when I danced I felt stiff like an old granny, third : when I looked at my surrounding...edannnn, yang paling tuir kayanya gue doang, yang lainnya masih kaya Selena Gomez semua, bikin kepala gue merunduk dalam-dalam seperti kura-kura masuk ke dalam tempurungnya, forth : I could not talk to my friends as it was too loud, fifth : I missed my husband and kids :(. So I guess, going to bar or club is not my thing anymore unless I really really have a super strong reason why I have to go there again.
Kalau ditanya apa perasaan saya ketika keluar rumah jalan-jalan malam atau menginap di rumah teman tanpa keluarga setelah menikah sekarang ini, jawabannya adalah : "menyenangkan, karena bisa mendapatkan fresh air dan fun karena bisa ngobrol dan bercanda hanya dengan bahasa Indonesia lagi. But still, there´s nothing a better place than home".
Mungkin keadaannya akan berbeda kalau ini terjadi di Indonesia. Tidak semua orang bisa "mengerti" kalau ibu-ibu yang sudah menikah dan punya anak juga masih berhak keluar malam exclusively hanya dengan teman-teman perempuannya. Masih bisa jalan-jalan ke luar kota dan menginap dengan teman-temannya saja dan meminta suami untuk menjaga anak di rumah. Dan keadaan ini bisa dimengerti karena lingkungan sosial sekitar kita yang "berpendapat" jika keluar rumah malam-malam bisa menimbulkan banyak pandangan negatif, apalagi kalau sudah ibu-ibu, menikah dan punya anak...apa kata dunia???...
Pandangan ideal dari seorang ibu dan istri adalah, menghabiskan waktu hanya untuk keluarga, kalaupun pergi keluar hanya untuk belanja, pengajian, ke rumah saudara, antar anak sekolah, arisan dan semuanya harus dilakukan in the day time. And no more going to club or just listening live music only with girl friends karena takut bisa menimbulkan fitnah. JHmmm...jadi untuk saya pribadi, saya tidak punya hak untuk "meluruskan" keadaan ini. Lain gunung, lain belalang, dimana bumi diinjak di situ langit dijunjung. Yaaa...itu sih gimana orang-orang melihatnya saja.
Dan menurut pendapat saya, jika skema keluar malam and staying over somew here with girl friends only dilakukan dengan jujur & penuh rasa tanggung jawab, rasanya tidak mungkin akan ada reaksi negatif yang bisa timbul Kecuali kalau keluar rumahnya memang bertujuan negatif, seperti flirting around when you are away from home atau pergi tanpa sepengatahuan suami yaa..pastinya memang akan menimbulkan reaksi negatif juga.
Baru-baru ini saya pergi ke luar kota selama 1 hari 1 malam dengan ibu-ibu Dharma Wanita Indonesia di Swiss. Kami pergi menginap di rumah mertua dari Vivian Hornstein di Bourrignon, Jura. Jumlah kami sekitar 17 orang dan semuanya dikoordinasikan oleh Ibu Nurul sebagai ketua Dharma Wanita di Swiss. Kami tidak hanya sekedar pindah tempat tidur dari rumah ke sana, kamipun punya beberapa kegiatan selama di Bourrignon. Kami pergi hiking ke dalam hutan dan berjalan sampai mendekati perbatasan Swiss - Perancis, mengunjungi kota Delemont dan menikmati suasana kota kecilnya dan yang terpenting adalah kami bisa menikmati kebersamaan kami tanpa anak dan suami. And it´s not bad at all. Sometimes we need a bit space for our self and to free our mind from all household things. We had lots of fun together, we enjoyed our presence one to another and we get to know each other better. And I can make under line here, there was no stupid things has been made.
Dengan "menjauh" dari rumah time to time justru membuat perasaan rindu kepada suami dan anak semakin bertambah. Memang hal menyenangkan bisa kumpul-kumpul dengan teman-teman tanpa anak dan suami, tanpa kita harus memikirkan suami bete gak ya kalau kita ngobrol sama teman lama atau anak kita rewel karena gak betah di suatu tempat. Karena kami butuh pergatian suasana, kami butuh bertemu dengan teman tanpa harus melihat jam, kami butuh waktu di saat hanya dengan teman wanita kami saja, kadang-kadang kami butuh sendiri.
Tapi tetap saja, kebahagian sejati adalah berada di rumah dan keluarga. Apalagi, ketika melihat mereka menjemput atau menyambut saya di depan pintu rumah dengan senyum lebar dan pelukan hangat sambil mengatakan how much they missed me when I was away. Hal-hal seperti itu membuat perasaan dihati saya semakin bertambah kuat, jika surga saya di dunia adalah rumah & keluarga saya....
Tapi tetap saja, kebahagian sejati adalah berada di rumah dan keluarga. Apalagi, ketika melihat mereka menjemput atau menyambut saya di depan pintu rumah dengan senyum lebar dan pelukan hangat sambil mengatakan how much they missed me when I was away. Hal-hal seperti itu membuat perasaan dihati saya semakin bertambah kuat, jika surga saya di dunia adalah rumah & keluarga saya....
Monday, 20 June 2011
I am sorry... (but actually I don't care *so typical*)
"iya, aku minta maaf"... or "sorry ya, gak sengaja"... atau just "sorry - yang diucapkan sambil lalu saja"... Kata-kata ini sering sekali diucapkan orang termasuk saya pastinya. Banyak yang bilang that these words are one of most powerful words ever. Tapi bagi saya, karena terlalu seringnya kata-kata ini diucapkan sambil lalu saja, kata-kata inipun berkurang maknanya.
Ketika kita menginjak kaki seseorang tanpa sengaja kita bilang maaf, ketika kita ingin mendahului orang berjalan kita bilang maaf, ketika kita membuat seseorang malu, kecewa atau marah kita bilang maaf. Dan sering pula kita mendengar orang meminta maaf pada kita, baik itu untuk hal-hal sepele atau hal-hal yang cukup serius. But ironically, these powerful words often said just for lips service and turn become meaningless words.
Gak perlu deh jauh-jauh melihat bukti dari ketidak seriusan seseorang mengucapkan kata-kata maaf. Di seputaran saya sendiri saja sering sekali terjadi antar teman berkelahi lalu saling minta maaf tapi tidak lama kemudian bertengkar lagi. Atau suami saya meminta maaf karena menaruh pakaian dalam kotor sembarangan tapi besoknya dilakukan lagi. Seandainya mereka benar-benar tulus dan perduli mengucapkan kata maaf, pasti tidak akan ada lagi pertengkaran dan kaos singlet kotor bertebaran di depan pintu kamar....arrghhhhh...where is the meaning of truly sorry actually????....
Saya tidak mengatasnamakan banyak orang dalam hal ini, tapi ini adalah perasaan pribadi saya sebagai manusia yang cukup sering mendengar atau mengucap kata maaf. Sering sekali saya merasa kata-kata itu hambar ditelinga dan tak cukup berkekuatan untuk mengungkapkan penyesalan. Kata-kata maaf dikeluarkan hanya sebagai pengganti tanda titik ketika ingin mengakhiri suatu perdebatan serius yang tidak berujung. And sadly I have to admit that I often said sorry but actually I don't care for what I did... it's a pity right?... Contoh simpelnya saja, sering saya tidak mematikan PC sebelum tidur padahal Pascal sudah mengingatkan saya untuk jangan lupa mematikannya padahal saya tahu kalau hal tersebut membuat kesal dia. Tapi karena tidak adanya keperdulian saya pada hal itu membuat saya menjadi careless dan akhirnya melakukan kejadian yang sama lagi.
Hal seperti ini membuat saya berfikir dan berefleksi, apakah anak-anak saya akan melakukan hal yang sama dikemudian hari, yaitu mengucapkan maaf tapi sebenarnya tidak perduli dengan kesalahan mereka. Ketika mereka melakukan kesalah baik itu kecil atau besar mereka mengatakan maaf hanya untuk menyenangkan hati kita tapi sebenarnya mereka tidak perduli atau bahkan tidak mengerti kesalahan mereka sendiri dan akhirnya melakukan kesalahan yang sama lagi. I really don't want to hope that.
Saya percaya bahwa segala sesuatu hal baik harus dimulai dari dalam diri sendiri. When we require good thing happen into our life then naturally we are required to do the same as well. Dan di masa depan saya ingin mendengar anak-anak say sorry and they do care when make mistake and promise will not do it again. Then it has to be start from my self. When I do something wrong I will say I am sorry, I am mean it and I will not do it again...even for a small thing in every aspects of my life.
Saya pribadi harus mengembalikan lagi makna dari "kata-kata maaf atau sorry" menjadi kata yang mempunyai arti kuat dalam kehidupan sehari-hari saya.
Monday, 13 June 2011
Tulisan tentang rasa, hati, pikiran dan perkataan saya: Let´s go to mountain not to mall :)))
Tulisan tentang rasa, hati, pikiran dan perkataan saya: Let´s go to mountain not to mall :))): "Yeayyyy...ada long weekend lagi dan kali ini Pascal gak harus pergi kerja hari Senin karena Swiss mempunyai public holiday yaitu Pfingsten (..."
Subscribe to:
Posts (Atom)

















